Minggu, 03 Januari 2016

Tata cara penulisan ilmiah

Tata Cara Penulisan Ilmiah
            Penulisan Ilmiah merupakan karya tulis yang disusun oleh seorang mahasiswa yang telah menyelesaikan kurang lebih 100 sks dengan dibimbing oleh Dosen Pembimbing  sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar Setara Sarjana Muda.
Tujuan pembuatan Penulisan Ilmiah adalah melatih mahasiswa untuk dapat menguraikan dan membahas suatu permasalahan secara  ilmiah dan dapat menuangkannya secara ilmiah dan menuangkannya secara teoritis, jelas dan sistematis.
Isi dari Penulisan Ilmiah diharapkan memenuhi aspek-aspek di bawah ini :
1.  Relevan dengan jurusan dari mahasiswa yang bersangkutan.
2.  Mempunyai pokok permasalahan yang jelas.
3.  Masalah dibatasi, sesempit mungkin.


STRUKTUR PENULISAN ILMIAH
            sebuah karya ilmiah dibuat berdasarkan sistematika penulisan, Sistematika atau kerangka karya tulis ilmiah umumnya terdiri atas 3 (tiga) bagian utama yaitu bagian awal atau pembuka, bagian batang tubuh/isi tulisan, dan bagian akhir. Sedangkan di Universitas Gunadarma, dibagi ke bagian yang lebih kecil.
Susunan struktur Penulisan Ilmiah adalah sebagai berikut :
1.  Bagian Awal
2.  Pendahuluan
3.  Tinjauan Pustaka / Landasan Teori.               
4.  Hasil Penelitian dan Analisa   /  Pembahasan dan Analisa        Bagian Pokok   
5.  Kesimpulan (& Saran)                                   
6.  Bagian akhir

1.         Bagian Awal
            Bagian Awal, terdiri atas :
-           Halaman Judul
            Ditulis sesuai dengan cover depan Penulisan Ilmiah standar Universitas Gunadarma.
-           Lembar Pengesahan
            Dituliskan Judul PI, Nama, NPM, NIRM, Tanggal Sidang, Tanggal Lulus, dan tanda tangan            pembimbing, koordinator PI, serta Ketua Jurusan.
-           Abstraksi
            Berisi ringkasan dari penulisan. Maksimal 1 halaman.
-           Kata Pengantar
            Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan dalam pelaksanaan penelitian     dan penulisan ilmiah (a.l. Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Pembimbing, Perusahaan, dll ).
-           Daftar Isi
-           Daftar Tabel                             
-           Daftar Gambar               Kalau ada         
-           Daftar Lampiran                        

2.         Pendahuluan
            Pendahuluan menguraikan pokok persoalan. Terdiri dari :
-           Latar Belakang Masalah
            Menguraikan mengapa penulis sampai kepada pemilihan topik permasalahan yang bersangkutan.
-           Rimusan Masalah ( boleh ada, boleh tidak )
-           Masalah dan Pembatasan Masalah
            Memberikan batasan  yang jelas bagian mana dari persoalan yang dikaji dan bagian mana yang      tidak.
-           Tujuan Penulisan
            Menggambarkan hasil-hasil yang diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban           terhadap masalah yang diteliti.
-           Metode Penelitian
            Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan data, alat yang    digunakan dan cara analisa data.

            Jenis-Jenis Metode Penelitian :
a.         Studi Pustaka    : Semua bahan diperoleh dari buku-buku dan/atau jurnal.
b.         Studi Lapangan : Data diambil langsung di lokasi penelitian.
c.         Gabungan         : Menggunakan gabungan kedua metode di atas.
            (Bila penulis melakukan Praktek Kerja, laporan ditulis menurut format penulisan ilmiah).
-           Sistematika Penulisan
            Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Ilmiah.

3.         Landasan Teori (untuk yang melakukan penelitian)
            Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang bisa diperkuat dengan             menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.

4.         Gambaran Umum Perusahaan (untuk yang melakukan penelitian / kerja praktek di perusahaan)
            Menguraikan secara singkat profil perusahaan tempat dilakukannya kerja praktek / penelitian.         Dibuat bab sendiri (tidak termasuk dalam landasan teori).

5.         Hasil Penelitian dan Analisa
            Bagian ini dapat dipecah menjadi beberapa bab ( misalnya Bab III dan Bab IV ) tergantung kebutuhan :
-           Hasil Penelitian (Analisa Perusahaan)
            Menguraikan hasil penelitian yang mencakup semua aspek yang terkait dengan penelitian.
-           Analisa dan Pembahasan
            Membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang          diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan  menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.




6.         Kesimpulan (dan Saran)
            Bab ini bisa terdiri dari Kesimpulan saja atau ditambahkan Saran.
-           Kesimpulan
            Berisi jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari penelitian.
-           Saran
            Ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.


7.         Bagian Akhir
-           Daftar Pustaka
            Berisi daftar referensi (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan.
-           Daftar Simbol
            Berisi deretan simbol-simbol yang digunakan di dalam penulisan, lengkap dengan keterangannya.
-           Lampiran
            Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, program, gambar, perhitungan-perhitungan, grafik,        atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait            sebelumnya.


TEKNIK PENULISAN

1.         Penomoran Bab serta subbab
-           Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
-           Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor bab/subbab         dimana bagian ini terdapat.
            II ………. (Judul Bab)
            2.1 ………………..(Judul Subbab)
            2.2 ………………..(Judul Subbab)
            2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
-           Penulisan nomor dan judul bab di tengah dengan huruf besar, ukuran font 14, tebal.
-           Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan huruf besar, ukuran font 12,       tebal.

2.         Penomoran Halaman
-           Bagian Awal, nomor halaman ditulis dengan angka romawi huruf kecil (i,ii,iii,iv,…).Posisi di tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar pengesahan, nomor halaman         tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.
-           Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari bab pertama         adalah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap awal bab di bagian bawah       tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.
-           Bagian akhir, nomor halaman ditulis di bagian bawah tengah dengan angka latin dan merupakan      kelanjutan dari penomoran pada bagian pokok.


3.         Judul dan Nomor Gambar / Grafik / Tabel
-           Judul gambar / grafik diketik di bagian bawah tengah dari gambar. Judul tabel diketik di sebelah      atas tengah dari tabel.
-           Penomoran tergantung pada bab yang bersangkutan, contoh : gambar 3.1 berarti gambar pertama   yang aga di bab III.

4.         Penulisan Daftar Pustaka
-           Ditulis berdasarkan urutan penunjukan referensi pada bagian pokok tulisan ilmiah.
-           Ditulis menurut kutipan-kutipan
-           Menggunakan nomor urut, jika tidak dituliskan secara alfabetik
-           Nama pengarang asing ditulis dengan format : nama keluarga, nama depan.
            Nama pengarang Indonesia ditulis normal, yaitu : nama depan + nama keluarga
-           Gelar tidak perlu disebutkan.
-           Setiap pustaka diketik dengan jarak satu spasi (rata kiri), tapi antara satu pustaka dengan pustaka lainnya diberi jarak dua spasi.
-           Bila terdapat lebih dari tiga pengarang, cukup ditulis pengarang pertama saja dengan tambahan ‘et al’.
-           Penulisan daftar pustaka tergantung jenis informasinya yang secara umum memiliki urutan             sebagai berikut :
            Nama Pengarang, Judul karangan (digarisbawah / tebal / miring), Edisi, Nama Penerbit, Kota         Penerbit, Tahun Penerbitan.
-           Tahun terbit disarankan minimal tahun 2000


Contoh :

Buku :
[1].Date, C.J., An Introduction To Database Systems, 6th ed., Addison Willey Publishing Wesley Company, Inc., Reading Massachusetts, 2000.

Anonim :
[1].Anonim, Sistem Pemerintahan di Indonesia, cetakan pertama, PT. Gunung Agung, Jakarta 1983.

            Majalah / Jurnal :
[1].Cattell R.G.G. and Skeen.J. “Object Operation Benchmark”. ACM Trans. Database Systems, 17, 1992,             pp. 1 - 31.
(Jika ada, nama dan kota penerbit dapat dicantumkan di antara volume dan halaman, nama jurnal digarisbawah / tebal / miring).

Lebih dari tiga penulis :
[1]        Stoica, I, et all., “A Proportional Share Resource Allocation Algorithm for Real-Time, Time-Shared Systems”, In Proceedings Real-Time Systems Symposium, IEEE Comp. Press, Desember, 1996, hlm. 288 - 299.

Artikel :
            [1] N.L. Owsley, “Sonar array processing”, in Array Signal Processing, S. Haykin, Ed.,
                           Englewood Cliffs, NJ:Prentice_Hall, 1985, ch. 3,pp.115-193.
Internet :
            [1] Galagher, P.R.Jr., “A guide to understanding audit in trusted system”,
                           http://www.radium.nesc.mil/library/rainbow/NCSC-TG-001-2.html,1 Juni 1988.
                           Atau
                           URL:http://www.radium.nesc.mil/library/rainbow/NCSC-TG-001-2.html

5.         Pengutipan
            Agar pengutipan menjadi sederhana, judul materi yang diacu tidak perlu diletakkan di bagian           bawah pada halaman yang bersangkutan, melainkan cukup dengan memberikan nomor urut       acuan dari daftar pustaka, sbb :
            ………………..(kutipan)………………… [3].     berarti kutipan diambil dari buku ke tiga dari daftar    pustaka.
-           Jika kutipan kurang atau sama dari tiga baris, bagian awal dan akhir kutipan diberi tanda kutip,       spasi tetap biasa.
-           Kutipan yang lebih panjang dari tiga baris tidak perlu diberi tanda kutip, tapi diketik dengan jarak      satu spasi dengan indent yang lebih dalam 7 ketuk pada bagian kiri.

6.         Format Pengetikan
-           Menggunakan kertas ukuran A4.
-           Margin Atas     : 4 cm               Bawah  : 3 cm
                        Kiri       : 4 cm               Kanan   : 3 cm
-           Jarak spasi : 1,5 (khusus ABSTRAKSI hanya 1 spasi)
-           Jenis huruf (Font) : Times New Roman.             
-           Ukuran / variasi huruf     : Judul Bab        14 / Tebal + Huruf Besar
                                                  Isi                   12 / Normal
                                                 Subbab            12 / Tebal

7.         Hasil Penulisan / Kerja Praktek :
-           Diseminarkan dengan membawa ringkasan yang sudah ditransparansikan
-           Dijilid berbentuk buku dengan jumlah halaman paling sedikit 12 (dua belas) halaman tidak   termasuk cover, halaman judul, daftar isi, kata pengantar dan daftar pustaka
-           Diketik dengan menggunakan antara lain : Word Processor, Open Office, LaTeX, dsb.

-           Dicetak dengan printer (dianjurkan dengan LASER PRINTER)

Jumat, 27 November 2015

Kutipan, Catatan Kaki dan Daftar Pustaka


Kutipan, Catatan Kaki dan Daftar Pustaka

KUTIPAN

A.        Definisi Kutipan
Dalam penulisan-penulisan ilmiah, baik penulisan artikel-artikel ilmiah, karya-karya tulis maupun penulisan skripsi dan disertasi seringkali dipergunakan kutipan-kutipan untuk menegaskan isi uraian atau untuk membuktikan apa yang dikatakan. Tetapi apa sebenarnya kutipan?
Kutipan adalah gagasan, ide, pendapat salinan kalimat atau paragraf yang diambil dari berbagai sumber. Sumber-sumber tersebut seperti seorang pengarang atau ucapan orang terkenal, baik yang terdapat dalam buku, jurnal, maupun terbitan lain.[1]
Pada umumnya, kutipan harus sama dengan aslinya. Baik mengenai susunan kata-katanya, ejaannya maupun mengenai tanda bacanya.[2] Dalam hal ini kutipan ditulis untuk menegaskan isi uraian, memperkuat pembuktian dan kejujuran menggunakan sumber penulisan.

Contoh Kutipan :
Isu Millenium Bug atau yang lebih dikenal dengan istilah Y2K berpengaruh besar terhadap peningkatan penjualan komputer. Di Indonesia, sejak kwartal pertama tahun 1999, penjualan komputer mengalamai peningkatan hingga 50-200%. Menurut Ir. Budi Prasetyo, M.Com dari perusahaan distributor komputer merek Dell, penjualan Personal Computer (PC) Wearnes meningkat sebesar 55% dibandingkan angka penjualan tahun sebelumnya (Bisnis Indonesia, 2 Mei 1999: 40). Peningkatan yang sama juga dialami oleh perusahaan komputer Compaq, yaitu berkisar 50-57% pada akhir bulan Maret 1999 sebagaimana diutarakan oleh Direktur PT Compaq Computer Indonesia, B.T. Lim,
“peningkatan penjualan komputer Compaq sebesar 200% selama tiga bulan pertama tahun 1999 disebabkan oleh kegiatan komputerisasi untuk menghadapi Y2K dan segmen bisnis layanan” (Atmadi dan Purwito 1999:12).
B.        Fungsi Kutipan
Pemkiran yang mendasari penggunaan kutipan, yaitu:
1.      Menunjukkan kualitas ilmiah yang lebih tinggi.
2.      Menunjukkan kecermatan yang lebih akurat.
3.      Memudahkan penilaian penggunaan sumber data.
4.      Memudahkan pembedaan data pustaka dan keterangan tambahan.
5.      Mencegah pengulangan penulisan data pustaka.
6.      Meningkatkan estetika penulisan.
7.      Memudahkan penijauan kembali penggunaan referensi.
8.      Memudahkan penyuntingan naskah yang terkait dengan data pustaka.
9.      Menunjukkan kualitas kecerdasan akademis penulisnya[3].
10.  Penunjukkan adanya bagian lain dalam naskah yang dapat ditelusuri kebenaran faktanya.
C.        Prinsip dalam mengutip
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh penulis pada waktu membuat
            kutipan, antara lain :
1.      Jangan mengadakan perubahan
Pada waktu mengadakan kutipan langsung, pengarang tidak boleh mengubah kata-kata atau teknik dari teks aslinya. Bila pengarang menganggap perlu untuk mengadakan perubahan tekniknya, maka ia harus menyatakan atau memberi keterangan yang jelas bahwa telah diadakan perubahan tertentu. Misalnya dalam naskah aslinya tidak ada kalimat atau bagian kalimat yang diletakkan dalam huruf miring (kursif) atau digaris bawahi, tetapi oleh pertimbangan penulis, kata-kata atau bagian kalimat tertentu itu diberi huruf tebal, huruf miring, atau direnggangkan. Pertimbangan untuk mengubah teknik itu bisa bermacam-macam : untuk memberi aksentuasi (tekanan), contoh, pertentangan, dan sebagainya. Dalam hal yang demikian, penulis harus memberi keterangan dalam tanda kurung segi empat […] bahwa perubahan itu dibuat sendiri oleh penulis, dan tidak ada dalam teks aslinya. Keterangan dalam tanda kurung segi empat itu, misalnya berbunyi sebagai berikut : [huruf miring dari saya, penulis].

2.      Bila ada kesalahan
Bila dalam kutipan itu terdapat kesalahan atau keganjilan, entah dalam persoalan atau dalam soal-soal ketaabahasaan, penulis tidak boleh memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Ia hanya mengutip sebagaimana adanya. Demikian pula halnya kalau penulis tidak setuju dengan suatu bagian dari kutipan itu.
Dalam hal terakhir ini, kutipan tetap dilakukan, hanya penulis diperkenankan mengadakan perbaikan atau catatan terhadap kesalahan tersebut. Perbaikan atau catatan itu dapat ditempatkan dalam tanda kurung segi empat […] seperti halnya dengan perubahan teknik seperti telah kemukakan di atas. Catatan dalam tanda kurung segi empat itu langsung ditempatkan dibelakang kata atau unsur yang hendak diperbaiki, diberi catatan, atau yang disetujui itu. Misalnya kalau kita tidak setuju dengan bagian itu, maka biasanya diberi catatan singkat [sic].
Kata sic yang ditempatkan dalam tanda kurung segi empat menujukkan bahwa penulis tidak bertanggung jawab atas kesalahan itu, ia sekedar mengutip sesuai dengan apa yang terdapat dalam naskah aslinya.
Contoh :
“Demikian juga dengan data bahasa yang lain dalam karya tulis ini kami selalu berusaha mencari bentuk kata yang mendukung makan [sic] sentral/distribusi yang terbanyak sebagai bahan dari daftar Swadesh.”
Kata makan dalam kutipan di atas sebenarya salah cetak; seharusnya makna. Namun, dalam kutipan, penulis tidak boleh langsung memperbaiki kesalahan itu. Ia harus memberi catatan bahwa ada kesalahan dan ia sekedar mengutip sesuai aslinya. Untuk karya-karya ilmiah penggunaan sic dalam tanda segi empat yang ditempatkan langsung dibelakang kata atau bagian yang bersangkutan, dirasakan lebih mantap.

3.      Menghilangkan bagian kutipan
Dalam kutipan-kutipan diperkenankan pula menghilangkan bagian- bagian tertentu dengan syarat bahwa penglihatan bagian itu tidak boleh mengakibatkan perubahan makna aslinya atau makna keseluruhannya. Penghilangan bagian itu biasanya dinyatakan dengan mempergunakan tiga titik spasi (…). Jika unsur yang dihilangkan itu terdapat pada akhir sebuah kalimat, maka ketiga titik berspasi itu ditambah sesudah titik yang mengakhiri kalimat itu. Bila bagian yang dihilangkan itu terdiri dari satu alinea atau lebih, maka biasanya dinyatakan dengan titik berspasi sepanjang satu baris halaman. Bila ada tanda kutip, maka titik-titik itu baik pada awal maupun pada akhir kutipan harus dimasukkan dalam tanda kutip sebab unsur yang dihilangkan itu dianggap sebagai bagian dari kutipan.
Contoh bagian kalimat yang dihilangkan :
~ Naskah asli
Demikian pula nilai sosial kata harus sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, antara lain apakah ada kata-kata yang tabu, sakral, atau yang berkonotasi lain.
~ Kutipan
“Demikian pula nilai sosial kata harus sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, ….. .”

Contoh bagian alinea yang dihilangkan :
~ Naskah asli
Kaidah sosial berhubungan erat dengan persyaratan kesesuaian pemilihan kata. Kata yang digunakan harus sesuai dengan kesempatan atau situasi yang dimasuki. Pada situasi resmi (formal) digunakan kata-kata baku, sedangkan pada situasi tidak resmi (nonformal) dapat digunakan kata-kata nonbaku. Situasi masyarakat pendengar dan pembaca yang menjadi sasaran harus diperhatikan, baik umurnya, golongannya, maupun pendidikannya.

Kutipan
“Kaidah sosial berhubungan erat dengan persyaratan kesesuaian pemilihan kata. Kata yang digunakan harus sesuai dengan kesempatan atau situasi yang dimasuki………….”

D.       Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Mengutip, diantaranya:
1.      Penulis mempertimbangkan bahwa kutipan itu perlu.
2.      Penulis bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan.
3.      Kutipan dapat terkait dengan penemuan teori.
4.      Jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan langsung.
5.       Penulis mempertimbangkan jenis kutipan dan kaintannya dengan sumber rujukan.[5]

E.        Macam-macam kutipan
Terdapat beberapa jenis kutipan, yaitu :
1.      Kutipan Langsung
2.      Kutipan tidak langsung
3.      Kutipan pada catatan kaki
4.      Kutipan atas ucapan lisan
5.      Kutipan dalam kutipan
6.      Kutipan langsung pada materi

Namun disini saya akan membahas lebih dalam mengenai Kutipan langsung dan Kutipan tidak langsung. Berikut ini penjelasannya :
1.      Kutipan Langsung
Kutipan langsung adalah kutipan yang sama persis seperti kutipan aslinya, atau sumber yang kita ambil untuk mengutip. Disini kita sama sekali tidak boleh merubah atau menghilangkan kata atau kalimat dari sumber kutipan kita.Kalaupun ada keraguan atau kesalahan dalam kutipan yang kita ambit tersebut kita hanya dapat memandakannya dengan [sic!] yang menandakan kita mengutip langsung tanpa ada editan dan kita tidak bertanggung jawab jika ada kesalahan dari kutipan ynag kita ambil. Bila dalam kutipan terdapat huruf atau kata yang salah lalu dibetulkan oleh pengutip,harus digunakan huruf siku [ ….. ]. Demikian juga kalau kita menyesuaikan ejaan,memberi huruf kapital,garis bawah,atau huruf miring,kita perlu menjelaskan hal tersebut, missal [ huruf miring dari pengutip ],[ ejaan disesuaikan dengan EYD ],dll.

2.      Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung adalah kutipan yang telah kita ringkas intisarinya dari sumber kutipan aslinya. Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan teks yang kita buat dan tidak usah diapit tanda petik.Penyebutan sumber dapat dengan sistem catatan kaki,dapat juga dengan sistem catatan langsung ( catatan perut ) seperti telah dicontohkan.
F.         Teknik Mengutip
Perbedaan antara kutipan langsung dan kutipan tidak langsung (kutipan isi) akan membawa akibat yang berlainan pada saat memasukannya dalam teks. Begitu pula cara membuat kutipan itu. Agar tiap-tiap jenis kutipan dapat dipahami dengan lebih jelas, perhatikanlah cara-cara berikut :
1.      Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris
Sebuah kutipan langsung yang panjangnya tidak lebih dati empat baris ketikan, akan dimasukkan dalam teks dengan cara-cara sebagai berikut :
a.      Kutipan itu diintegrasikan langsung dalam teks;
b.      Kutipan itu diapit dengan tanda kutip;
c.       Jarak antara baris dengan baris dua spasi;
d.      Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukkan setengah spasi ke atas, atau dalam tanda kurung di tempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu.
Contoh :
Arti detugasi dapat kita lihat melalui batasan-batasan berikut : “Detugasi atau pemberian merupakan sebuah bentuk yang bertalian dengan usaha para penulis untuk memberikan perincian-perincian dari objek yang sedang dibicarakan” (Gorys, 1981 : 93).

2.      Kutipan langsung yang lebih dari empat baris
Kutipan langsung yang panjangnya lebih  dari empat baris ketikan ditulis dengan cara-cara berikut :
a.      Kutipan itu dipisahkan dari teks dengan jarak dua setengah spasi;
b.      Jarak antara baris dengan baris kutipan satu spasi;
c.       Kutipan itu dapat diapit atau tidak dengan tanda kutip;
d.      Sesudah kutipan diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas, atau ditempatkan dalam tanda kurung nama sigkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu;
e.      Seluruh kutipan dimasukkan ke dalam 5-7 ketikan; bila kutipan itu dimulai dengan alinea baru, maka baris pertama dari kutipan itu dimasukkan ke dalam lagi 5-7 ketikan.
Contoh :
                                                                ...........
 “Suatu fikiran yang telah tersebar dengan luas sekali di kalangan orang banyak yang menggambarkan buku-buku sebagai benda-benda tak berjiwa, tidak effektif [sic!], serba damai yang pada tempatya sekali berada dalam kelindungan-kelindungan sejak dan ketenangan akademis dari biara-biara dan universitas-universitas dan tempat-tempat pengasingan dari yang lain yang jauh dari dunia yang jahat dan matrealistis ini" (Asrul Sani, 1959:7).

3.      Kutipan tak langsung
Dalam kutipan tak langsung biasanya inti atau sari pendapat itu yang dikemukakan. Sebab itu, kutipan tak langsug tidak boleh mempergunakan tanda kutip. Beberapa syarat harus diperhatikan untuk membuat kutipan tak langsung :
a.      Kutipan itu diintegrasikan dengan teks;
b.      Jarak antara baris dengan baris dua spasi;
c.       Kutipan tidak dapat diapit dengan tanda kutip;
d.      Sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan spasi ke atas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu.
Contoh
                          ...........                       
Pertama-tama harus dibedakan dahulu atara kata ‘aksen’ dan ‘tekanan’. Dalam tata istilah ilmu bahasa ‘aksen’ tidak sama dengan ‘tekanan’. Aksen lebih luas maknanya daripada tekanan. Tata aksen dalam suatu bahasa memperbedakan suku-suku kata (yang sama bentuk foneiksegmentalnya) dengan jalan titinada, kontur lagu, jangka bunyi, dan tekanan. Dengan kata lain, tekanan itu hanya satu bagian dari kata aksen, di samping unsur titinada, kontur dan jangka. (Hockett, 1955:43-66).

Catatan Kaki
A.      Catatan kaki
Catatan kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab karangan ilmiah. Catatan kaki biasa digunakan untuk memberikan keterangan dan komentar, menjelaskan sumber kutipan atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan/bibliografi.

B.      Sistematika penulisan sunting
1.      empat belas karakter dari margin kiri dan berjarak empat spasi dari teks.
2.      Catatan kaki diketik berspasi satu.
3.      Diberi nomor.
4.      Nomor catatan kaki diketik dengan jarak enam karakter dari margin kiri.
5.      Jika catatan kakinya lebih dari satu baris maka baris kedua dan selanjutnya dimulai seperti margin teks biasa (tepat pada margin kiri).
6.      Jika catatan kakinya lebih dari satu maka jarak antara satu catatan dengan catatan yang lainnya adalah sama dengan jarak spasi teks.
7.      Jarak baris terakhir catatan kaki tetap 3 cm dari pinggir kertas bagian bawah.
8.      Keterangan yang panjang tidak boleh dilangkaukan ke halaman berikutnya. Lebih baik potong tulisan asli daripada memotong catatan kaki.
9.      Jika keterangan yang sama menjadi berurutan (misalnya keterangan nomor 2 sama dengan nomor 3, cukup tuliskan kata ibid daripada mengulang-ulang keterangan catatan kaki.
10.  Jika ada keterangan yang sama tapi tidak berurutan, berikan keterangan op.cit., lih [x] [x] merupakan nomor keterangan sebelumnya.
11.  Jika keterangan seperti opcit tetapi isinya keterangan tentang artikel, gunakan loc.cit.
12.  Untuk keterangan mengenai referensi artikel atau buku tertentu, penulisannya mirip daftar pustaka, tetapi nama pengarang tidak dibalik.

C.      Jenis-Jenis Catatan Kaki
Ada dua jenis catatan kaki yang biasa digunakan dalam penulisan karya ilmiah, yaitu:
1.      Catatan Kaki Lengkap ditulis lengkap dengan mencantumkan nama pengarang, judul buku, nama, atau nomor seri (jika ada), jumlah jilid (jika ada), nomor cetakan, nama penerbit, tahun terbit, dan nomor halaman.
2.      Catatan Kaki Singkat ditulis singkat dan terdiri dari 3 macam yaitu:
a.      Ibid. (Singkatan dari Ibidum, artinya sama dengan di atas), untuk catatan kaki yang sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya. Ditulis dengan huruf besar, digarisbawahi, diikuti titik (.) dan koma (,) lalu nomor halaman.
b.      Op.cit. (Singkatan dari opere citato, artinya dalam karya yang telah dikutip), dipergunakan untuk catatan kaki dari sumber yang pernah dikutip, tetapi telah disisipi catatan kaki lain dari sumber lain. Urutannya : nama pengarang, op.cit nomor halaman.
c.       Loc.cit. (Singkatan dari. loco citato, artinya tempat yang telah dikutip), seperti di atas tetapi dari halaman yang sama : nama pengarang loc.cit (tanpa nomor halaman).


DAFTAR PUSTAKA
  1. Pengertian Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan daftar yang berisikan sumber-sumber informan yang telah digarap oleh penulis sebagai bukti validnya data yang ia ambil. Sumber bacaan tersebut bisa berupa bacaan yang dipublikasikan maupun belum, sumber bacaan yang dipublikasikan seperti buku, majalah, surat kabar, dan yang belum dipublikasikan seperti makalah, keras kerja, skripsi, tesis, dan disertasi. Melalui daftar pustaka ini, pembaca dapat mengetahui segala sumber-sumber yang telah digunakan dalam karangan ilmiah. Dan selain itu, daftar pustaka dapat juga menjadi tolol ukur bagi pembaca yang berpengalaman, dengan melihat juga memahami bertalian atau tidak sumber-sumber yang digunakan dengan isi pembahasan dan mereka juga dapat menilai mutu pembahasan karya ilmiah tersebut[9].
Dalam karangan ilmiah, daftar pustaka ditempatkan pada bagian tersendiri dan disusun secara alfabetis berdasarkan nama pengarangnya. Untuk menyusun sebuah daftar pustaka, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini.
1.      Nama pengarang yang dipakai dalam urutan adalah nama keluarga. Jika terdapat nama gelar, maka nama tersebut tidak dicantumkan. Jika nama pengarang terdiri atas dua atau tiga nama, maka nama-nama tersebut dicantumkan semuanya dan nama pengarang paling depan dicantumkan nama keluarga terlebih dahulu, sedangkan nama pengarang kedua atau ketiga tidak. Apabila nama pengarang lebih dari tiga, maka dicantumkan mana yang paling depan dan diikuti dengan singkatan et. al. atau dkk. Jika nama keluarga sulit diketahui, maka nama pengarang yang terdiri dari atas dua atau tiga kata dapat digunakan patokan nama belakang dianggap sebagai nama keluarga.
2.      Apabila buku atau artikel tidak memilliki nama pengarang, maka nama badan atau lembaga yang menerbitkan buku atau artikel itu yang dimasukkan dalam urutan alphabet.
3.      Jika beberapa sumber bacaan yang digunakan merupakan hasil karya seorang pengarang, maka nama pengarang tidak dicantumkan pada sumber berikutnya. Sebagai ganti digunakan garis sepanjang lima atau sampai tujuh ketikan.
4.      Apabila terdapat dua sumber atau lebih dari seorang pengarang yang dimasukkan ke dalam daftar pustaka, maka sumber tersebut disusun menurut tahun terbitnya.
5.      Apabila terdapat dua sumber atau lebih dari seorang pangarang yang diterbitkan pada tahun yang sama, maka di belakang tahun diberi nomor urut a, b, c, dan seterusnya.
6.      Judul buku ditulis dengan huruf miring atau bergaris bawah. Judul artikel ditulis dalam tanda petik rangkap (“…”) dan nama majalah atau surat kabar tempat artikel tersebut ditulis dengan huruf miring atau bergaris bawah. Jika pustaka itu berupa makalah, skripsi, tesis, atau disertasi, maka judul ditulis dalam tanda petik rangkap, sedangkan etiket judul tersebut ditulis dengan huruf miring atau dengan garis bawah.
7.      Data publikasi dalam daftar pustaka terdiri atas tempat penerbitan, nama badan penerbit, dan tahun penerbitan yang ditulis dengan angka Arab.
8.      Jarak antara baris dengan baris untuk satu sumber adalah satu spasi, tetapi jarak antara sumber yang lain adalah dua spasi.
9.      Baris pertama dimulai dari margin kiri, sedangkan baris kedua dan seterusnya dalam setiap sumber dimasukkan ke dalam sebanyak 4 ketikan.

Cara menulis daftar pustaka bermacam-macam. Penulis boleh memakai cara yang mana saja asal sudah disepakati dan taat asas. Cara menulis daftar pustaka dalam karangan ilmiah yang disarankan adalah dengan urutan sebagai berikut:
-          Nama pengarang (nama keluarga/nama belakang) diikuti tanda koma (,) kemudian ditulis nama depan atau singkatannya dan diikuti tanda titik (.),
-          Tahun penerbitan diikuti tanda titik (.),
-          Judul buku ditulis dengan huruf miring dan diikuti tanda titik. Judul artikel dalam majalah, buloetin, dan surat kabar ditulis dalam petik rangkap diikuti tanda koma (,). Selanjutnya, nama majalah, buletin, dan surat kabar ditulis dengan huruf miring atau dengan garisbawah dan diikuti tanda koma (,),
-          Tempat penerbitan diikuti tanda titik dua (:) dan selanjutnya nama badan penerbit diikutu tanda titik (.).
-          Untuk majalah dan buletin, setelah nama majalah atau buletin dicantumkan nomor penerbitan (jika ada) dan diikuti tanda titik dua (:), selanjutnya dicantumkan nomor halaman tempat artikel itu berada dan diikuti tanda titik (.). untuk surat kabar, setelah nama surat kabar ditulis tanggal, bulan, dan tahun diikuti tanda koma. Pencantuman tahun di belakang bersifat manasuka karena sudah dicantumkan di depan. Selanjutnya, ditulis nomor halaman tempat artikel itu berada dan diikuti tanda titik.

Contoh:
Alwasilah, A. C. 1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.
Alwi, H. 1993. “Bahasa Indonesia Menjelang Tahun 2000”, Makalah, dalam kongres Bahasa Indonesia VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Anwar, K. 1984. Fungsi dan Persatuan Bahasa. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Arikunto,S. 1989. Manajemen Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Dirjen Dikti, P2LPTK.
Badudu, J.S. 1992. Cakrawala Bahasa Indonesia II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
_______ 1993. Cakrawala Bahasa Indonesia I. Cetakan Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
_______ 1995. “Cintakah Anda kepada Bahasa Indonesia?”, Pikiran Rakyat, 18 April 1995, hlm. 8.
Marcellino, M. (1990). “Kata Pinjaman bahasa Barat dalam Media Bahasa Indonesia”, dalam Linguistik Indonesia, Nomor 2 tahun 8:27-35

REFERENSI :
http://rewimolok.blogspot.com/2012/04/pengutipan.html
http://lytasapi.wordpress.com/2010/06/05/pengertian-fungsi-dan-jenis-kutipan/
http://www.maribelajarbk.web.id/2015/03/pengertian-dan-contoh-catatan-kaki.html?m=1
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Catatan_kaki